Upaya Tingkatkan Pendapatan Petani, LPP NU Soko Gandeng Kemitraan dengan PT. BCA

  • Bagikan

Tuban,- Jika selama ini banyak petani beranggapan bahwa kangkung bukanlah tanaman menguntungkan karena harga pasarnya saat ini, tidak demikian dengan dengan yang dirasakan warga Desa Mentoro, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Justru setelah mereka beralih membudidayakan kangkung, keuntungan mereka berubah 180 derajat. Maka mereka pun meninggalkan budidaya tanaman lain di sela-sela musim tanam padi di sawah.

“Bukan sembarang kangkung, melainkan varietas kode PRD 1502. Karena, memang yang mahal dan dibutuhkan produsen itu biji kangkung, yang berasal dari satu Varietas tersebut,” kata Wakhid Hasyim, salah satu petani kangkung di Desa Mentoro, Senin (30/08/2021).

Petani mendapatkan benih kangkung dari varietas itu dari LPP NU yang menjalin kerjasama PT Benih Citra Asia (BCA) Perusahaan itu juga menampung hasil panen petani desa tersebut.

Untuk biji kangkung varietas kode PRD 1502 itu biasa mereka hargai Rp 19.000 per kilogram.

Bandingkan dengan padi yang hanya di hargai Rp. 4.000 per kilogram. Selain biji kangkung yang di jual ke Mitra petani, juga menjual limbah kangkung atau biasa disebut dengan rendeng kangkung dengan harga Rp. 1.600 per kilogram. Rata-rata dalam satu hektar akan menghasilkan 5 ton rendeng.

Kondisi ini membuat para petani di Desa Mentoro memperoleh untung besar ketimbang menanam padi.

Wakhid Hasyim menyatakan, dalam satu hektar sawah, biasanya mereka memerlukan tidak lebih dari 5 sampai 10 kilogram bibit kangkung untuk ditanam. Adapun hasilnya rata-rata berkisar 1.700 kilogram.

“Dengan harga jual Rp 19.000 per kilogram, misalnya, maka untuk per hektar sawah yang ditanami kangkung membuat kami mendapat uang sekitar Rp 32.300.000,” ujar Wakhid Hasyim.

Petani lain di desa tersebut, Muhammad Ardiyanto menyatakan bahwa seumpama cuaca mendukung, ia ingin terus menanam kangkung tanpa harus menanam padi. Alasannya karena keuntungan besar yang bakal didapatkan

“Tapi tidak bisa karena saat hujan turun terlalu banyak, kangkung juga mati. Maka dari itu, biasanya kami tanam kangkung ini selepas padi, lebih-lebih saat pancaroba dan musim kemarau,” kata Muhammad Ardiyanto.

Para petani itu mengatakan, biji kangkung yang mereka hasilkan itu tersebut di beli oleh mitra petani yakni PT. BCA kemudian di ekspor ke beberapa negara mulai dari Thailand, Filipina, India, hingga Jepang.

  • Bagikan