oleh

Tanggapan Pengamat Politik Milenial Dalam Menyikapi Kegaduhan Pilkada di Media Sosial

02/2/2020

Klisajajatim.co – Pilkada menjadi pembahasan yang begitu hangat saat ini, terutama dikalangan Milenial dan di media sosial.  Menyikapi hal tersebut, ini tanggapan dan pendapat pengamat politik Milenial Rian Hidayat, S. IP saat dikunjungi oleh salah satu tim Kliksajajatim.co di warung kopi.

“Segelas kopi Arabica  menjadi terasa semakin pahit yang disuguhkan langsung oleh seorang sepuh politk di di wilayah MLM. ketika saya memperhatikan terus fenomena yang saling menyudutkan calon A, B dan C  saling bertengkar satu sama lain. Fenomena ini telah berubah menjadi hal yang dipertontonkan”. Ucap Rian mengawali pembicaraan hangat.

Rian berpendapat bahwa pemikiran yang dulu sangat eksklusif kini hadir sangat nampak di media sosial. Informasi yang terus berkembang telah membalut iklim baru menjadi masyarakat yang gampang mudah tersulut emosi.

“Yah, kita yakini bahwa politik identitas sangat rentan dibicarakan, karna hal ini mencangkup keyakinan bahawa yang menjadi pemimpin haruslah pribumi. Ketika ketidak pahaman dengan kelompok lain biasanya kita cendrung tidak obyektif dalam bersikap. Namun anehnya, justru terlalu banyak sikap ketidak bijaksanaan dan kedewasaan di masyarakat kita. Ya, justru yang paling bahaya ialah bahwa warga nitizen telah meratapi kepada nadir kemerostan ilmu politik yang harusnya bukan untuk kegaduhan dan saling serang secara individu tapi melainkan bagaiamana prestasi calon tersebut dimunculkan dimuka publik”. Lanjut Rian dalam menyampaikan pendapatnya.

Lebih lanjut, Rian menyampaikan bahwa yang hadir dan tampak hari ini adalah kejumudan etika yang bermuara pada pertengkaran dan semakin banyaknya orang berbondong bondong kepada taqlid buta dalam berpolitik . Pertengkaran dan perbedaan pendapat dalam politik bukan lah bentuk baru yang hari ini sangat krusial dibicarakan.

Ini merupakan rekam jejak lama yang hanya dalam balutan yang berbeda, perbedaanya terlihat pada akses yang semakin mudah kita dapati, menurut salah satu teman diskusi (pengamat politik) saya mengatakan bahwa kegaduhan dan keriwetan yang terjadi hari ini adalah bagi kita yang sibuk menganut idiologi kapitalizem , sebuah banyolan yang memiliki esensi cukup memuaskan untuk memperkayakan diri masing masing sehingga lupa bahwa musi rawas utara di mekarkan jadi derah otonomi baru dari kabupaten musi rawas utara untuk bagaimana mempercepat pembanguan baik dri segi pendapatan masyarakat maupun pembangunan fisik (infrastuktur) sebagaimana dia atur dalam undang-undang 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah.

Kita meyakini bahwa perbedaan tersebut merupakan sunnatullah yang perlu kita fahami bersama. Jika tak ada perbedaan mungkin saja Tuhan tak memberikan peran akal untuk memilih milih mana yang baik dan kepandaian bersikap , anngap saja hal ini sebagai cara tuhan mengaktifkan sel sel otak kita agar mau berfikir agar tak menganggur.

“Dalam diskusi kecil kecilan saya pernah memperdebatkan masalah seseungguhnya untuk apa musi rawas utara di mekarkan jadi DOB , toh semakin kalau SDM yang semakin tinggi justru lebih pandai menghardik dan membohongi orang kecil yang tertindas, masalahnya bukan pada ilmunya, tapi karna mungkin saja kita tak mampu mengkonsumsikan sebagai modal kearifan serta masyarakat kita belum pandai mengkonsepsi ilmu politik yang harusnya untuk kabiakan dan kesejahtraan masyarakat”. Pungkasnya.*

Oleh : Rian Hidayat, S. IP (Pengamat Politik Milenial)

Umpan Berita