Gelar Webinar Series, Komunitas Sejarah Ponorogo Kupas Kebesaran Tegalsari dan Kyai Ageng Hasan Besari

  • Bagikan

Desa Tegalsari di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menyimpan sejarah panjang akan berdirinya cikal bakal pesantren dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Di desa inilah, Kyai Ageng Hasan Besari merintis pesantren dengan jumlah santri mencapai ribuan orang. Tidak sedikit dari ribuan santri itu adalah para tokoh terkenal.

Di antara ribuan santri yang terkenal itu adalah Pakubuwono II penguasa Kerajaan Kartasura, Raden Ngabehi Ronggowarsito seorang Pujangga Jawa yang masyhur, Pangeran Diponegoro seorang Pahlawan Nasional, dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto.

Namun, kebesaran Tegalsari yang telah melahirkan banyak tokoh itu ternyata tidak banyak diketahui publik.

Husain Sanusi penulis buku Tetralogi Trimurti mengatakan sejarah Tegalsari belum terpublikasi dengan baik.

“Selama ini sejarah Tegalsari belum terpublikasi secara baik, padahal Tegalsari merupakan peradaban besar dimana cikal bakal pesantren dan kemerdekaan berasal dari Desa Tegalsari,” kata Husain Sanusi dalam webinar series membahas sejarah Tegalsari sekaligus tokoh Kyai Ageng Hasan Besari yang diselenggarakan oleh Komunitas Sejarah Ponorogo (KSP) pada Senin (08/11/2021).

Husain mengatakan diskusi tentang Tegalsari dan sejarahnya belum dilakukan secara masif dan sistematis. Menurutnya, secara umum diskusi masih dilakukan oleh kalangan terbatas, beberapa penulis dan peneliti yang hasilnya cukup sebagai bahan skripsi, tesis maupun disertasi.

Sementara itu, Kepala Desa Tegalsari, Khoirul Huda, mengatakan webinar series ini cukup penting untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang sejarah besar Desa Tegalsari.

“Diskusi yang baik, semoga nantinya mampu merajut kebersamaan antar tokoh masyarakat, sejarawan, dan para pemuda untuk dapat mengembangkan Desa Tegalsari sebagai desa wisata religi utama di Ponorogo maupun Jawa Timur,” ucap Khoirul Huda.

Inisiator KSP, Mahfut Khanafi mengungkapkan minimnya literasi sejarah menjadi penyebab ketidaktahuan masyarakat akan kebesaran sejarah Tegalsari dan Kyai Ageng Hasan Besari.

Untuk itu, ia berharap keberadaan KSP dapat berkontribusi memberikan literasi sejarah, khususnya untuk kalangan pemuda.

“Minimnya literasi sejarah tentang pondok pesantren Gebang Tinatar yang melahirkan banyak tokoh bangsa menjadi penting membangun sebuah komunitas sejarah yang membahas secara intens dan berkesinambungan, syukur-syukur dapat mendirikan sebuah museum,” pungkas Mahfut Khanafi. (*)

  • Bagikan