oleh

Pemkot Kendari dan BI Sultra Gelar Pertemuan Membahas Inflasi

Kliksajasultra.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) berupaya mengambil kebijakan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan strategi Pemerintah Pusat demi pengendalian inflasi di tengah pandemi ini.

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sultra, inflasi di Kota Kendari hingga Agustus 2020 tercatat 1,59 persen (ytd) lebih tinggi dari inflasi Sultra sebesar 1,23 persen (ytd). Meskipun masih relatif terkendali, inflasi tersebut lebih tinggi dari pada pertumbuhan ekonomi Sultra pada semester I-2020 yang tercatat sebesar 0,88 persen (ctc).

KPwBI Sultra memperkirakan inflasi berada dalam tren meningkat hingga akhir 2020, antara lain berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,13 persen terhadap inflasi Kota Kendari sebesar 1,59 persen (ytd). Adapun yang memicu tingginya inflasi di kota Kendari, yaitu sektor perikanan komoditas ikan dan komoditas sayur-mayur.

Memandang hal tersebut, KPwBI Sultra bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, serta instansi terkait lingkup Pemkot mengadakan High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Kendari. Langkah ini dilakukan guna memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, sehingga kesejahteraan masyarakat terjaga.

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir, mengatakan inflasi merupakan hal yang harus diperhatikan. Inflasi di daerah bisa memberikan efek terhadap berbagai sektor pembangunan dalam kehidupan masyarakat, meski 60 persen pertumbuhan ekonomi berada di ibu kota. Dampaknya terutama pada angka kemiskinan.

Menurut Walikota, kita pasti mendapat pukulan berat dalam situasi pandemi ini. Ia menilai dampak Covid-19 memicu naiknya angka kemiskinan. Sebelum adanya Covid-19, angkanya 5,1 persen. Kini, persentasenya naik tiga kali lipat.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPwBI Sultra, Surya Alamsyah, menerangkan faktor pendorong inflasi, yakni komoditas utama penyumbang inflasi memiliki tingkat persistensi inflasi tinggi; disparitas harga komoditas pangan di kabupaten/kota relatif tinggi; tanam/panen komoditas pangan yang mengikuti faktor alam/cuaca sehingga sangat dimungkinkan pasokan terbatas pada periode secara bersamaan.

Pertemuan tersebut menghasilkan banyak amanah untuk instansi terkait, terutama dalam menjaga stabilitas komoditas yang selama ini mengalami inflasi. Tentunya, ini menjadi tanggung jawab bersama, koordinasi tetap harus terjalin.[]

Umpan Berita